MENERIMA PEMASANGAN CCTV DAN SERVICE KOMPUTER, LAPTOP. HUB: "08893052494/085852840756"
Diberdayakan oleh Blogger.

tab 1 - Click >> Edit

tab 3 - Click >> Edit

tab 2 - Click >> Edit

Tab 4 - Click >> Edit

Rabu, 16 Januari 2013

DEPARTEMINISASI BOP / FOH

DEPARTEMINISASI BOP / FOH


1. DEPATEMENISASI BOP / FOH :

adalah pembagian pabrik menjadi Departemen / bagian yang disebut pusat biaya kedalam mana Biaya Overhead Pabrik dibebankan.
Pada umumnya pengolahan produksi dilakukan oleh beberapa Departemen produksi yang ditanggung oleh Departemen Pembantu, yang berfungsi menghasilkan jasa-jasa untuk memperlancar proses produksi. Dalam Departemenisasi biaya overhead pabrik ini tarip BOP dihitung untuk setiap Departemen produksi dengan dasar pembebanan yang berbeda.


Departemenisasi BOP bermanfaat untuk pengendalian biaya dan ketelitian penetuan harga pokok produksi, dan dengan Depaartemenisasi BOP akan memperjelas tanggung-jawab setiap biaya yang terjadi dalam departemen tertentu. Dengan dipergunakan tarip BOP setiap departemen produksi, maka pesanan / produksi yang melewati suatu departemen akan dibebani dengan biaya overhead pabrik sesuai dengan tarip Departemen produksi yang bersangkutan. Hal ini akan mempunyai akibat lebih telitinya didalam penentuan harga pokok produknya.Dalam hubungan dengan Departemenisasi BOP ini kita kenal pembagian biaya yang di sebut Biaya Langsung Departemen (Direct Departemental Expense) Yakni biaya overhead yang terjadi dan dapat langsung dibebankan kepada Departemen tertentu dan Biaya tak langsung Departemen(Inderect Departemental Expense) adalah Jenis biaya overhead pabrik yang timbul dan dinikmati oleh lebih dari satu Dapartemen.

2. LANGKAH-LANGKAH DIDALAM PENENTUAN TARIP BOP PER DEPARTEMEN:

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

a. Penyusunan Anggaran BOP per Departemen (yaitu departemen produk-
si dan departemen pembantu).

b. Alokasi BOP dari Departemen pembantu ke Departemen Produksi.

c. Menghitung Tarip BOP per Departemen produksi.













PENYUSUNAN ANGGARAN BOP PER DEPARTEMEN

Langkah-Langkah yang ditempuh dengan cara:

1. Pabrik terlebih dahulu dibagi dalam Departemen produksi dan departemen pembantu.
2. Menyusun anggaran biaya overhead pabrik dengan membagi biaya overhead langsung dan tak langsung departemen.
3. Membagi dengan jalan mendistribusikan biaya overhead pabrik tak langsung ke departemen produksi dan departemen pembantu. Untuk kepentingan / keperluan analisa Biaya Overhead Pabrik dipisahkan kedalam biaya tetap (fixed cost)dan biaya variabel (variable cost).

ALOKASI BOP DEPARTEMEN PEMBANTU KE DEPARTEMEN
PRODUKSI.

Alokasi Biaya Depart. pembantu ini dapat dilakukan dengan salah satu cara:

1. Dengan metode alolakasi langsung (DIRECT ALOCATION METHOD).
Cara ini deipergunakan jika jasa yang dihasilkan oleh Departemen pembantu hanya dinikmati oleh Departemen Produksi saja.
2. Dengan Metode Alokasi Baertahap (STEP ALOCATION METHOD). Cara ini dipergunakan jika jasa yang dihasilkan oleh Departemen pembantu tertentu selain dinikmati oleh Departemen Produksi juga dinikmati oleh Departemen Pembantu lain atau terdapat transfer jasa antar Departemen pembantu. Dalam hubungan dengan alokasi bertahap ini masalah yang timbul:
a. Adanya lalulintas jasa antar departemen pembantu, akan menyulitkan
alokasi BOP dari departemen pembantu lainnya serta ke departemen
produksi.
b. Departemen pembantu mana yang pertama kali yang pertama kali harus
dialokasikan?.
Kesuliatn alokasi departemen pembantu dengan Step Allocation Metod
dapat diatsi dengan cara sebagai berikut:
1. Jika antar 2 Departemen pembantu terjadi transfer jasa timbal balik
maka dapat dipakai metode:
a. Metode Alokasi Kontinyu.
b. Metode Aljabar.
2. Dengan metode urutan allokasi yang diatur, jika tidak memper-
hitungkan transfer jasa timbal balik.















MENGHITUNG TARIP BOP PER DEPARTEMEN DAN PEMBEBANAN BOP KE PRODUK

Hal ini dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Departemen-departemen produksi setelah menerima alokasi BOP dari Departemen pembantu kemudian dibagi dengan dasar pembebanan yang dipergunakan untuk mendapatkan tarip BOP per departemen.
2. Dengan dasar tarip BOP tersebut kemudian membebankannya kepada produk yang diproduksi.

Dalam hubungan dengan Departemenisasi BOP / FOH tersebut kita kenal istilah-istilah:

a. Distribusi Biaya Overhead: Istilah ini dipergunakan untuk menggambarkan pembagian biaya overhead tak langsung departemen ke departemen produksi dan departemen pembantu.

b. Alokasi Biaya Overhead: Istilah ini dipergunakan untuk menggambarkan pembagian BOP Departemen pembantu ke Departemen lainnya baik dengan cara alokasi langsung maupun dengan cara alokasi bertahap.

c. Pembebanan Biaya Overhead: Istilah ini dipergunakan untuk menggambarkan pembagian BOP kepada produk yang diproduksi.

Dari ketiga istilah tersebut kemudian kita kenal tiga macam tarip yaitu:

1. Tarip Distribusi: Yaitu suatu tarip yang dipakai dasar untuk membagikan biaya Overhead tak langsung Departemen ke Departemen prodiuksi dan Departemen pembantu.

2. Tarip Alokasi: Yaitu suatu tarip yang dipakai sebagai dasar untuk membagikan BOP Departemen pembantu ke Departemen produksi.

3. Tarip pembebanan biaya overhead: Yaitu suatu tarip yang dipakai dasar untuk membagikan BOP kepada produk yang diproduksi.

Contoh: Perhitungan denga BOP rate per departemen dengan metode
alokasi langsung.
















MENYUSUN ANGGARAN BOP PER DEPARTEMEN

PT.MAKMUR
ANGGARAN BOP PER DEPARTEMEN TH 2000

Jenis BOP Jumlah (RP) Dep.Prod.(Rp) Dep.Pembantu (Rp)
I II X Y Z
*) BOP langsung Dept
- Bahan Penolong V
- Bahan Bakar V
- TK tak langsung V
F
- Kesejahteraan
Karyawan F
- Reparasi & Pemeli V
haraan F

Jumlah BOP V
Langsung Dept F

*) BOP Tak Langsung
Departemen
- P H Gedung F
- Gaji Pengawas Dep F

Jumlah BOP tak Lang-
sung Departemen

* ) JUMLAH BOP
Variabel (V)
Fixed (F)
1.500.000
1.000.000
500.000
1.500.000

750.000
450.000
1.250.000

3.450.000
3.500.000



750.000
500.000

1.250.000



3.450.000
4.750.000
500.000
-
300.000
600.000

300.000
225.000
325.000

1.025.000
1.225.000



300.000
200.000

500.000



1.025.000
1.725.000
700.000
-
200.000
550.000

250.000
100.000
475.000

1.000.000
1.275.000



375.000
200.000

575.000



1.000.000
1.850.000
150.000
-
-
100.000

40.000
25.000
125.000

175.000
265.000



30.000
20.000

50.000



175.000
315.000
80.000
1.000.000
175.000
-

100.000
75.000
250.000

1.155.000
525.000



30.000
50.000

80.000



1.115.000
605.000
70.000
-
-
75.000

60.000
25.000
75.000

95.000
210.000



15.000
30.000

45.000



95.000
255.000
8.200.000 2.750.000 2.850.000 490.000 1.760.000 350.000

DISTRIBUSI BIAYA:
BOP tak langsung Departemen didistribusikan ke Departemen produksi dan departemen pembantu dengan dasar sebagai berikut:
- PH Gedung atas dasar Luas Lantai Gedung
- Gaji pegawai Departemen atas dasar Jumlah Karyawan.
Data luas lantai gedung dan jumlah karyawan pada 1 Januari 2000 sbb:
Departemen
_______________________________
I II X Y Z
Luas lantai 200 m2 250 m2 20 m2 20 m2 10 m2
Jumlah Karyawan 20 20 2 5 3















Langkah-langkah alokasi biaya: Cara: Direct Alocation Method:
Untuk mengadakan alokasi langsung, berikut ini diketahui taksiran Jasa Departemen pembantu yang dipakai oleh departemen produksi sebagai berikut:
Departemen Pembantu Departemen Produksi I Departemen Prosduksi II
X 75% 25%
Y 45% 55%
Z 60% 40%
Alokasi secara langsung dari departemen pembantu ke departemen produksi sebagai berikut:
Langkah ke 3 : Menghitung Tarip BOP per Departemen Produksi
Misalnya diketahui bahwa taksiran kapasitas normal BOP untuk tahun 2000:
Departemen I : 50.000 Jam TK Langsung
Departemen II : 25.000 Jam Mesin.

Metode Urutan Alokasi yang diatur

Penggunaan aloasi kontinyu dan metode aljabar, bila perusahaan mempunyai banyak departemen pembantu sering menimbulkan banyak kesulitan dalam perhitungan. Dalam praktek metode urutan alokasi yang diatur sering kali digunakan.
Pedoman mengatur urutan Alokasi:
1. Tidak diadakan alokasi BOP kedalam Departemen Pembantu yang BOP
nya telah dialokasikan ke departemen lain.
2. Depoartemen-departemen pembantu yang saling memberikan servis dan
jumlahnya tidak berarti dan saling mengkompensir tidak diadakan alokasi
BOP.
3. Urutan Alokasi bisa dilaksanakan antara lain:
a. BOP departemen pembantu yang paling banyak jasanya dinikmati oleh
departemen pembantu lainnya dialokasikan pada uruytan yang pertama.
b. Dapat didasarkan kepada urutan besarnya BOP masing-masing
departemen pembantu dimana yang paling besar dialokasikan pertama
kali.
c. Departemen pembantu yang paling banyak menerima jasa dari departem
pembantu lainnya dialokasikan paling akhir.
d. Alokasi BOP departemen pembantu diatur urutannya sedemikian rupa
sehingga arus alokasi menuju satu arah.

















Contoh : Dengan alokasi bertahap.
PT.Makmur mengolah produknya melalui 2 Departemen produksi yaitu Departemen produksi I dan Departemen produksi II dan 3 departemen pembantu yaitu departemen pe4mbantu X, Y, dan Z.
Dalam rangka penentuan tarip BOP tahu 2000, telah disusun anggaran BOP per departemen serta dasar alokasi dan dasar distribusi BOP.

Alokasi BOP Departemen Pembantu:
a. BOP departemen pembantu Z atas dasar pemakaian KWH.
b. BOP departemen pebantu Y atas dasar perbandingan jumlah karyawan.
c. BOP departemen pembantu X atas dasar jam pemeliharaan.
- Dasar distribusi BOP tak langsung departemen ke departemen produksi dan
departemen pembantu atas dasar luas lantai untuk penghapusan gedung
sedangkan untuk gaji pengawas atas dasar jumlah karyawan.
- Dalam membebankan BOP kepada produk digunakan dasar pembebanan
jam kerja langsung untuk departemen I , Jam Mesin untuk departemen II.
Taksiroan operasional normal departemen untuk tahun 2000 adalah sebagai berikut:
Departemen I = 50.000 Jam TK Langsung
Departemen II = 25.000 Jam Mesin
- Data selama tahun 2000 sebagai berikut:
1. Anggaran BOP per departemen 2.000
(periksa data anggaran BOP PT. Makmur).

Uraian V Dept.Produksi (Rp) Departemen Pembantu
F I II X Y Z
BOP Langsung & tak Langsung Dept. V
F 1.025.000
1.725.000 1.000.000
1.850.000 175.000
315.000 1.115.000
605.000 95.000
255.000
Jumlah 2.750.000 2.850.000 490.000 1.760.000 350.000

2. Hasil survey pabrik pada awal tahun 2000

Dept. Luas Lanatai Juml.Karyawan Pemakaian KWH Jam Pemeliharaan
I
II
X
Y
Z 200 M2
250 M2
20 M2
20 M2
10 M2 20
20
2
5
3 10.000
12.000
2.500
500
500 400
600
10
5
5














3. BOP sesungguhnya per Departemen tahun 2000

Jenis Biaya Jumlah Dept.Produksi (Rp) Departemen Pembantu (Rp)




















































UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA
FAKULTAS EKONOMI

EVALUASI AKHIR SEMESTER PEDEK 2000/2001

Mata kuliah : Akuntansi Biaya
W a k t u : 75 Menit
S i f a t : Tertutup
___________________________________________________________
Soal:
1. PT. Togel menghasilkan 3 (tiga) jenis produk bersama R, S, dan T. Selama bulan Juli 2001 dikeluarkan biaya bersama sebagai berikut:
Bahan Baku: Rp 18.000.000,- Tenaga Kerja Langsung: Rp 10.000.000,-BiayaOverhead:Rp 7.000.000,-.Kuantitas produk utama yang dihasilkan R, S, dan T masing-masing 20.000 unit, 50.000unit dan 30.000 unit. Biaya pengolahan tambahan sejak saat terpisah adalah:
Produk Tenaga Kerja Langsung Biaya Overhead J u m l a h
R Rp 2.500.000 Rp 1.500.000 Rp 4.000.000
S Rp 3.500.000 Rp 2.500.000 Rp 6.000.000
T Rp 1.800.000 Rp 1.200.000 Rp 3.000.000
Harga jual per unit produk R, S, dan T masing-masing Rp 700, Rp500 dan Rp 800,-
Diminta:
a. Hitunglah jumlah laba kotor masing-masing jenis produk dengan anggapan bahwa
semua unit yang dihasilkan terjual seluruhnya dan metode alokasi yang digunakan adalah
metode nilai jual hipotesis relatif.
b. Tentukan apakah produk R harus di jual Rp 450 pada saat terpisah atau perlu diproses
lebih lanjut sehingga dapat dijual Rp 700.

2. PT.LEGOT memproduksi produknya melalui 2 Departemen produksi yaitu Departemen produksi I dan Departemen produksi II serta 3 departemen pembantu yaitu departemen pembantu R, S, dan T.Dalam rangka penentuan tarip BOP tahun 2000, telah diperoleh BOP per departemen serta dasar alokasi dan dasar distribusi BOP.
Alokasi BOP Departemen Pembantu:
a. BOP departemen pembantu T atas dasar pemakaian KWH.
b. BOP departemen pebantu S atas dasar perbandingan jumlah karyawan.
c. BOP departemen pembantu R atas dasar jam pemeliharaan.
- Dasar distribusi BOP tak langsung departemen ke departemen produksi dan departemen
pembantu atas dasar luas lantai untuk penghapusan gedung sedangkan untuk gaji
pengawas atas dasar jumlah karyawan.
- Dalam membebankan BOP kepada produk digunakan dasar pembebanan Jam Kerja
langsung untuk departemen I , Jam Mesin untuk departemen II. Data operasional
sesungguhnya departemen untuk tahun 2000 adalah sebagai berikut:
Departemen I = 100.000 Jam TK Langsung ,Departemen II = 50.000 Jam Mesin
- Data selama tahun 2000 sebagai berikut
. BOP sesunguhnya per departemen tahun 2000 sbb:

Uraian V Departemen Produksi Departemen Pembantu
F I II R S T
BOP langsung & tak langsung Dept. V
F 2.000.000
3.000.000 1.500.000
2.500.000 200.000
300.000 750.000
1.250.000 1.400.000
1.600.000
J u m l a h 5.000.000 4.000.000 500.000 2.000.000 3.000.000















. Hasil survei mengenai dasar distribusi dan BOP pada tahun 2000 sebagai berikut:

Depart. Jam Pemeliharaan Pemakaian KWH Jumlah Karyawan Luas Lantai
I
II
R
S
T 600
400
50
40
10 12.500
12.000
3.000
2.500
1.000 45
35
20
15
5 200 M2
250 M2
20 M2
20 M2
10 M2

Dari data tersebut di atas saudara diminta:

a. Buatlah alokasi bartahap dimana Departemen pembantu T di alokasikan pertama kali,
kemudian Departemen pembantu S dan seterusnya terakhir Departemen pembantu R.

b. Hitunglah tarip BOP per Departemen Produksi tahun 2000 serta Tarip BOP Variable dan
Fixed untuk masing-masing Departemen Produksi.






























Comments :

0 komentar to “DEPARTEMINISASI BOP / FOH”


Poskan Komentar